Siapa yang tidak ingin hidupnya penuh berkah? Hampir semua orang
memanjatkan doa yang sama: semoga rezeki berkah, ilmu berkah, keluarga berkah,
dan umur pun berkah. Namun, berkah bukan sekadar soal banyak atau sedikitnya
apa yang kita miliki.
Secara bahasa, berkah bermakna an-namā’ wa az-ziyādah—tumbuh
dan bertambah. Artinya, berkah adalah kebaikan yang Allah tetapkan pada sesuatu
sehingga memberi manfaat yang terus berkembang. Bisa jadi harta tidak
bertambah, tetapi ketenangan meningkat. Bisa jadi penghasilan sederhana, tetapi
cukup dan menenangkan. Di situlah hakikat berkah.
Sebaliknya, jika sesuatu yang kita miliki justru membawa kegelisahan,
kerusakan, atau menjauhkan dari kebaikan, maka itulah tanda hilangnya
keberkahan.
Berkah
Datang Bersama Iman dan Takwa
Al-Qur’an
menegaskan bahwa keberkahan bukan hadiah tanpa syarat. Allah SWT berfirman:
“Sekiranya
penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf: 96)
Iman dan
takwa adalah kunci utama. Ketika keduanya hidup dalam diri seseorang atau
sebuah masyarakat, keberkahan akan mengalir dalam berbagai bentuk: rezeki yang
cukup, ilmu yang bermanfaat, dan kehidupan yang lebih tertata.
Salah satu
amalan nyata yang membuka pintu keberkahan itu adalah menjalin silaturahim.
Apa Itu
Silaturahim?
Silaturahim
berasal dari dua kata: shilah (menghubungkan) dan rahim (kasih
sayang atau kekerabatan). Maka silaturahim bukan sekadar bertemu atau saling
menyapa, tetapi membangun hubungan yang dilandasi cinta, kepedulian, dan
empati—baik dengan keluarga, kerabat, maupun sesama manusia.
Karena itu,
silaturahim tidak bisa dipilih-pilih. Tidak cukup baik kepada orang luar tetapi
renggang dengan keluarga sendiri. Tidak pula cukup akrab dengan saudara, tetapi
bermusuhan dengan sesama. Silaturahim yang benar adalah menjaga hubungan dengan
kasih sayang secara menyeluruh.
Allah SWT
berfirman:
“Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan
peliharalah hubungan silaturahim…” (QS. An-Nisa’: 1)
Perintah ini
menunjukkan bahwa silaturahim adalah bagian tak terpisahkan dari ketakwaan.
Pahala Besar
di Balik Silaturahim
Rasulullah
SAW bahkan menempatkan silaturahim sebagai amalan yang pahalanya sangat besar.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Maukah
kalian aku tunjukkan amalan yang pahalanya lebih besar daripada shalat dan
puasa?” Para
sahabat menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Mendamaikan orang yang
bertengkar dan menyambung persaudaraan yang terputus.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Hadis ini
menegaskan bahwa menjaga dan memperbaiki hubungan antarsesama bukan perkara
sepele. Ia adalah amal sosial yang dampaknya luas dan nilainya besar di sisi
Allah.
Kekuatan
Islam Ada pada Ukhuwah
Islam sangat
menekankan ukhuwah atau persaudaraan. Umat Islam diibaratkan seperti bangunan
kokoh yang saling menguatkan, atau satu tubuh yang saling merasakan.
Rasulullah
SAW bersabda:
“Perumpamaan
orang-orang beriman dalam hal saling mencintai dan menyayangi seperti satu
tubuh. Jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya.” (HR. Muslim)
Ketika
persaudaraan dijaga, umat menjadi kuat. Sebaliknya, ketika silaturahim
terputus, kekuatan itu melemah dari dalam.
Silaturahim:
Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur
Rasulullah
SAW bersabda:
“Barang
siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia
menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rezeki yang lapang
tidak selalu berarti harta berlimpah. Bisa berupa kemudahan hidup, ketenangan
hati, atau hadirnya orang-orang baik dalam kehidupan kita. Orang yang gemar
bersilaturahim biasanya memiliki banyak relasi, banyak pintu kebaikan, dan
banyak pertolongan yang datang tanpa disangka.
Adapun umur
panjang, bisa dimaknai secara hakiki—Allah benar-benar memanjangkan usia—atau
secara maknawi, yakni namanya terus hidup dalam kebaikan dan dikenang dengan
doa oleh banyak orang.
Menutup
dengan Amal Nyata
Setiap kita
tentu mendambakan hidup yang berkah, rezeki yang lapang, dan umur yang
bermanfaat. Maka jalan yang ditunjukkan Rasulullah SAW sangat jelas: rawat
silaturahim, jangan putuskan persaudaraan, dan tebarkan kasih sayang.
Mari kita
mulai dari hal sederhana: menyapa keluarga, memaafkan yang berselisih, menjaga
hubungan meski berbeda pandangan. Karena boleh jadi, keberkahan besar dalam
hidup kita datang dari satu langkah kecil: menyambung kembali tali silaturahim
yang sempat renggang. Wa’allahu’alam bishawab
Tulis Komentar