0811106108

Ketika Silaturahim Menjadi Kunci Keberkahan Hidup

$rows[judul]

Siapa yang tidak ingin hidupnya penuh berkah? Hampir semua orang memanjatkan doa yang sama: semoga rezeki berkah, ilmu berkah, keluarga berkah, dan umur pun berkah. Namun, berkah bukan sekadar soal banyak atau sedikitnya apa yang kita miliki.

Secara bahasa, berkah bermakna an-namā’ wa az-ziyādah—tumbuh dan bertambah. Artinya, berkah adalah kebaikan yang Allah tetapkan pada sesuatu sehingga memberi manfaat yang terus berkembang. Bisa jadi harta tidak bertambah, tetapi ketenangan meningkat. Bisa jadi penghasilan sederhana, tetapi cukup dan menenangkan. Di situlah hakikat berkah.

Sebaliknya, jika sesuatu yang kita miliki justru membawa kegelisahan, kerusakan, atau menjauhkan dari kebaikan, maka itulah tanda hilangnya keberkahan.

Berkah Datang Bersama Iman dan Takwa

Al-Qur’an menegaskan bahwa keberkahan bukan hadiah tanpa syarat. Allah SWT berfirman:

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf: 96)

Iman dan takwa adalah kunci utama. Ketika keduanya hidup dalam diri seseorang atau sebuah masyarakat, keberkahan akan mengalir dalam berbagai bentuk: rezeki yang cukup, ilmu yang bermanfaat, dan kehidupan yang lebih tertata.

Salah satu amalan nyata yang membuka pintu keberkahan itu adalah menjalin silaturahim.

Apa Itu Silaturahim?

Silaturahim berasal dari dua kata: shilah (menghubungkan) dan rahim (kasih sayang atau kekerabatan). Maka silaturahim bukan sekadar bertemu atau saling menyapa, tetapi membangun hubungan yang dilandasi cinta, kepedulian, dan empati—baik dengan keluarga, kerabat, maupun sesama manusia.

Karena itu, silaturahim tidak bisa dipilih-pilih. Tidak cukup baik kepada orang luar tetapi renggang dengan keluarga sendiri. Tidak pula cukup akrab dengan saudara, tetapi bermusuhan dengan sesama. Silaturahim yang benar adalah menjaga hubungan dengan kasih sayang secara menyeluruh.

Allah SWT berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahim…” (QS. An-Nisa’: 1)

Perintah ini menunjukkan bahwa silaturahim adalah bagian tak terpisahkan dari ketakwaan.

Pahala Besar di Balik Silaturahim

Rasulullah SAW bahkan menempatkan silaturahim sebagai amalan yang pahalanya sangat besar. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang pahalanya lebih besar daripada shalat dan puasa?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Mendamaikan orang yang bertengkar dan menyambung persaudaraan yang terputus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa menjaga dan memperbaiki hubungan antarsesama bukan perkara sepele. Ia adalah amal sosial yang dampaknya luas dan nilainya besar di sisi Allah.

Kekuatan Islam Ada pada Ukhuwah

Islam sangat menekankan ukhuwah atau persaudaraan. Umat Islam diibaratkan seperti bangunan kokoh yang saling menguatkan, atau satu tubuh yang saling merasakan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya.” (HR. Muslim)

Ketika persaudaraan dijaga, umat menjadi kuat. Sebaliknya, ketika silaturahim terputus, kekuatan itu melemah dari dalam.

Silaturahim: Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rezeki yang lapang tidak selalu berarti harta berlimpah. Bisa berupa kemudahan hidup, ketenangan hati, atau hadirnya orang-orang baik dalam kehidupan kita. Orang yang gemar bersilaturahim biasanya memiliki banyak relasi, banyak pintu kebaikan, dan banyak pertolongan yang datang tanpa disangka.

Adapun umur panjang, bisa dimaknai secara hakiki—Allah benar-benar memanjangkan usia—atau secara maknawi, yakni namanya terus hidup dalam kebaikan dan dikenang dengan doa oleh banyak orang.

Menutup dengan Amal Nyata

Setiap kita tentu mendambakan hidup yang berkah, rezeki yang lapang, dan umur yang bermanfaat. Maka jalan yang ditunjukkan Rasulullah SAW sangat jelas: rawat silaturahim, jangan putuskan persaudaraan, dan tebarkan kasih sayang.

Mari kita mulai dari hal sederhana: menyapa keluarga, memaafkan yang berselisih, menjaga hubungan meski berbeda pandangan. Karena boleh jadi, keberkahan besar dalam hidup kita datang dari satu langkah kecil: menyambung kembali tali silaturahim yang sempat renggang. Wa’allahu’alam bishawab

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)