Ramadhan adalah bulan yang agung, bulan
yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, dilipatgandakan pahala, dan dibuka
pintu-pintu ampunan. Setiap muslim tentu berharap dapat menjumpai Ramadhan
dalam keadaan iman yang kuat dan hati yang siap beribadah. Namun, hendaknya
kita merenung sejenak: sudahkah hati ini benar-benar siap menyambut Ramadhan?
Jangan sampai Ramadhan datang, sementara
hati kita masih berat untuk menunaikan shalat, enggan membaca Al-Qur’an, lalai
dari zikir, bermusuhan dengan kerabat, serta ringan dalam melakukan maksiat.
Ramadhan bukanlah sekadar perubahan jadwal makan dan tidur, melainkan momentum
besar untuk perubahan hati dan perilaku.
Allah Ta‘ala memerintahkan hamba-Nya untuk
segera bertaubat dan tidak menunda-nunda. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
(QS. At-Tahrim: 8)
Taubat adalah kunci pembuka keberkahan.
Taubat membersihkan hati yang kotor, melembutkan jiwa yang keras, dan
menghidupkan kembali semangat ibadah yang mulai redup. Oleh karena itu, sebelum
Ramadhan tiba, hendaknya kita memulai langkah taubat dengan sungguh-sungguh.
Bulan Rajab dan Sya‘ban adalah waktu
terbaik untuk menata diri. Barang siapa memulai taubat di bulan Rajab, insya
Allah akan dikuatkan langkahnya ketika memasuki Ramadhan. Barang siapa menata
hati hari ini, ia akan merasakan manisnya ibadah di hari esok. Sebab, ibadah
yang khusyuk lahir dari hati yang bersih.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى
اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada
Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus
kali.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa taubat bukan
hanya kewajiban bagi orang yang banyak dosa, tetapi kebutuhan setiap hamba,
bahkan seorang Rasulullah ﷺ yang maksum pun memperbanyak taubat.
Allah Maha Pemurah dan Maha Pengampun.
Betapapun banyak dosa seorang hamba, pintu taubat selalu terbuka selama nyawa
belum sampai di tenggorokan. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ
أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari
rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Taubat yang benar bukan sekadar ucapan
istighfar di lisan, tetapi disertai penyesalan dalam hati, meninggalkan dosa
yang dilakukan, serta bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Termasuk di
dalamnya adalah memperbaiki hubungan dengan sesama manusia: memaafkan, meminta
maaf, dan menyambung kembali silaturahmi yang terputus.
Mari kita sambut Ramadhan dengan persiapan
terbaik. Bersihkan hati sebelum membersihkan piring sahur. Ringankan langkah
menuju masjid sebelum mengejar hidangan berbuka. Lunakkan hati dengan taubat,
agar Ramadhan tidak berlalu sia-sia.
Semoga Allah Ta‘ala menerima taubat kita,
menguatkan langkah kita menuju Ramadhan, dan menganugerahkan kepada kita
Ramadhan yang penuh makna, ampunan, dan keberkahan. Aamiin.
Tulis Komentar